lifestyle

Pregnancy Story (Part 1): 9 Bulan Yang Luar Biasa

Hallo semuanya, welcome back!

Akhirnya aku bisa Kembali menyapa kalian lagi melalui platform ini. Setelah hiatus beberapa bulan, kali ini aku mau sharing hal yang berbeda. Kalau biasanya aku sharing tentang kecantikan kali ini sesuai judulnya “pregnancy story”, aku mau cerita kisahku selama hamil. So, ini dia ceritaku!

Satu tahun setelah kelulusanku di bangku kuliah, tepatnya Desember 2019, aku resmi menjadi seorang istri dari laki-laki yang sudah bersamaku selama 5 tahun. Setelah menikah tentunya perbincangan kami adalah mengenai momongan. Berdiskusi kira-kira kapan kami “siap” memiliki momongan terlepas dari pertanyaan orang-orang sekitar.

Kalau dibilang jujur saat itu aku masih ingin menikmati masa-masa berdua kami. Emang 5 tahun kurang? Ya jelas kurang, pacaran sebelum menikah dan sesudah menikah itu rasanya beda banget. Buat kalian yang udah ngerasain pasti tau lah ya gimana bedanya.

Tapi ya namanya rencana Allah siapa sih yang bisa mengatur dan merubahnya. Alhamdulillah aku dan suami diberi amanah lebih cepat. Perjalanan 9 bulanku pun dimulai.

Trimester 1

Aku tahu hamil sekitar bulan Maret 2020. Jujur, karena siklus haidku tidak teratur aku tak berfikir kalau saat itu aku hamil ditambah sebelumnya aku sempat sakit. Pas lihat dua garis di testpack aku percaya ga percayalah. takut aja gitu kena prank.

Dua minggu setelah tes menggunakan test pack, aku dan mas memutuskan ke bidan dekat rumah. Dihitung dari haid pertama terakhir, bidan bilang usia kandungannya mungkin baru 6/7 minggu dan diminta kontrol lagi dua minggu lagi.

Nah, di trimester 1 yang aku rasain mual (of course) dan indra penciumanku meningkat. Sebenernya gak terlalu banyak drama di trimester 1 ini. Cuma yang paling berasa adalah aku jadi gak doyan nasi, cium aroma nasi aja mual. Di trimester 1 walaupun gak doyan nasi tetap aja berat badanku naik. Haha.

Trimester 2

Di trimester 2 aku mulai bisa beraktifitas seperti biasa. Di trimester ini bawaannya pengen keluyuran terus pokoknya aktif banget deh. Makan pun juga bablas, gak kekontrol. Yes sangking aktifnya sampe lupa kalau lagi hamil dan lagi pandemi.

Di bulan ke 5 aku mulai bisa ngerasain si dedek bergerak di perut. Hihi. Rasanya? MasyaAllah seneng banget, gak percaya kalau ada makhluk hidup lain di perutku. Aku juga mulai intens ngajak ngobrol dedek dan pas dia ngerespon tuh terharu banget. Kadang kalau lagi pillow talk sama si mas si dedek ikutan ngasih kode buat diajak ngobrol juga.

Aktivitas yang aku lakuin untuk menunjang kehamilanku di trimester 1 sampai 2 ini cuma berjemur, jalan kaki, dan rebahan. Dan di trimester 2 ini aku juga mulai cari-cari provider untuk bersalin. Karena pandemi otomatis budget melahirkan pun meningkat.

Aku pun mencari yang bisa dicover full asuransi selama kontrol sampai melahirkan, jadi cashless gitu alias bawa diri doang. Kan lumayan ceu. Fyi, aku pakai mandiri inhealth, nanti aku akan bahas tersendiri pengalamanku mencari provider untuk melahirkan.

Trimester 3

Waktu tuh cepat banget berlalu. Gak berasa udah masuk trimester 3. Masuk trimester 3 ini aku mulai aktif ikut prenatal gentle yoga. Ikut kelas persiapan melahirkan dan sebagainya. HPLku diperkirakan jatuh pada tanggal 15 November 2020. Karena aku menginginkan persalinan normal, dokter menyarankan untuk bersiap dari awal November karena bisa saja maju.

Di trimester ini aku tahu jenis kelamin si dedek dan di trimester ini aku tahu kalau ada lilitan di leher dedek. Sedih dan cemas soalnya aku gak tahu apakah lilitan itu bahaya atau enggak buat dedek. Dokter pun memberi afirmasi positif kalau lilitannya gak bahaya karena melihat perkembangan si dedek yang normal.

Gak sabar banget rasanya menyambut hadirnya si dedek. Sampai satu minggu sebelum HPL dokter bilang kalau berat dedek hampir 4kg. Dimana kalau sampai lebih dari 4kg dokter tidak menyarankan persalinan normal. Jika tetap ingin normal harus dilahirkan secepatnya dengan induksi. Kenapa induksi? Karena aku belum merasakan tanda-tanda melahirkan.

Akhirnya aku coba diet dengan anjuran dokter. Satu hari lewat HPL yang merupakan kontrol terakhirku si dedek beratnya masih di bawah 4kg. Kontrol terakhir ini agak lama karena aku masih belum merasakan tanda-tanda akan melahirkan. Hanya saja sudah ada lendir di pakaian dalam, akhirnya dokter memutuskan untuk periksa dalam. Ternyata sudah pembukaan 2 hampir 3 sodara-sodara.

Dokter menyarankan untuk observasi dan memberikan surat rujukan untuk rawat inap juga langsung tes lab keperluan persalinan hari itu. Tapi, aku memutuskan untuk pulang setelah observasi dan tes lab. Oh iya, karena aku punya mata minus dan silinder aku sudah mengantongi surat dari dokter mata bahwa bisa melakukan persalinan per vaginam (normal).

Tepat tanggal 17 November 2020 pukul 10.00 akhirnya aku bisa bertemu si dedek secara langsung melalui persalinan normal. Terharu? Jelas. Gak bisa diungkapin pakai kata-kata lah pokoknya. Gak nyangka bisa ngelewatin 9 bulan ini.

Baca Juga: Jogja Vacation, Penginapan Ala Bali di Jogja!

Jujur kehamilanku ini gak terlalu banyak drama. Gak banyak ngidam yang aneh-aneh dan badanku juga gak kayak berasa lagi hamil. Sampai di trimester 3 ini yang paling berasa adalah aku gak mood banget buat pegang makeup maupun skincare. Jadilah selama hamil gak pakai skincare ataupun makeup. Makannya blog ini juga sempat hiatus.

Well, itu dia pregnancy story versiku. Nanti akan ada lanjutan cerita tentang pengalamanku mencari provider melahirkan dan pengalamanku masuk trimester 4 (mengASIhi).

See you!

Annisa P Putri

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *