Ketahui Kekerasan Seksual Lebih Dalam dan Perspekstif Dari Segi Islam
lifestyle

Mengenal Lebih Dalam Tentang Kekerasan Seksual

Banyak yang menganggap bahwa kekerasan seksual hanya berupa perkosaan saja. Nyatanya, ada banyak bentuk kekerasan seksual yang terjadi di sekitar kita dan perkosaan adalah salah satunya. Sebenarnya apa sih kekerasan seksual? Mari kita bahas lebih dalam mengenai hal ini.

Apa Itu Kekerasan Seksual?

Merupakan suatu tindakan tidak menyenangkan bisa berupa verbal dan non verbal yang berkonotasi seks. Kekerasan ini terjadi dalam banyak bentuk, beberapa diantaranya ialah perkosaan, perbudakan seks, dan/atau perdagangan, kehamilan yang dipaksakan, pelecehan seksual, eksploitasi seksual dan/atau penganiayaan, dan pengguguran kandungan yang dipaksakan.

Fakta juga menyebutkan bahwa kekerasan seksual ini tidak hanya terjadi pada perempuan tetapi juga terjadi pada laki-laki, hanya saja mayoritas korbannya adalah perempuan. Suatu tindakan dapat dikatakan kekerasan seksual jika tidak adanya persetujuan yang terjadi antara pelaku dan korban. Persetujuan di bawah paksaan pun dianggap sebagai tindakan kekerasan seksual. Sedangkan, pada anak berusia di bawah 18 tahun ada atau tidak adanya persetujuan tetap dinilai sebagai tindakan kekerasan seksual.

Penyebab Terjadinya Kekerasan Seksual

Banyak yang mengatakan bahwa penyebab terjadinya kekerasan seksual, khususnya pada perempuan adalah pakaian yang minim. Nyatanya, perempuan yang menggunakan pakaian tertutup pun bisa menjadi korbannya. Ika Putri Dewi, S.Psi., (Psikolog Yayasan PULIH) menjabarkan bahwa akar masalah terjadinya kekerasan seksual ini, yaitu:

  1. Budaya patriarki
  2. Ketidakadilan gender
  3. Penyalahgunaan relasi kuasa
  4. Perspektif HAM yang minim
  5. Perspektif gender yang minim

Kelima hal di atas sudah menjadi akar, sehingga butuh edukasi secara aktif di masyarakat untuk mengatasi akar masalah terjadinya kekerasan seksual ini.

Dampak Bagi Para Penyintas

“Salah sendiri dia diam saja, lapor dong!”, kalian pasti sering mendengar kalimat ini jika ada korban kekerasan seksual. Alih-alih mendukung korban, kalian justru menyudutkan korban. Korban diam bukan berarti dia tidak apa-apa. Ada beberapa hal yang mendasari korban bersikap diam, diantaranya syok, trauma, malu, bingung, khawatir dan takut akan ancaman pelaku serta respon lingkungan.

Dampak yang dirasakan oleh para penyintas, yaitu:

  1. Fisik (kehamilan, gangguan pada alat vital dan penyakit menular seksual)
  2. Psikis (gangguan kecemasan, depresi, Post traumatic stress disorder, gangguan kepribadian, keinginan untuk bunuh diri)
  3. Sosial (disudutkan dan dikucilkan)

Perspektif Hukum Kekerasan Seksual Dalam Islam

Agama selalu disangkutpautkan akan hal-hal yang terjadi di sekitar kita. Bicara soal kekerasan seksual, penasaran tidak sih bagaimana perspektif hukum dalam Islam?

Yulianti Muthmainnah (Ketua Pusat Studi Islam, Perempuan, dan Pembangunan (PSIPP) ITB Ahmad Dahlan Jakarta) memaparkan bahwa kekerasan seksual ini bertentangan dengan maqashid syariah (terutama hifz al-nafs dan hifz al-aql), hak asasi manusia atau non-derogable rights yang juga dijamin Konstitusi Negara RI (Pasal 28I ayat 1 UUD 1945 yakni hak hidup, hak bebas dari penyiksaan, dan hak tidak diperbudak). Beliau juga memaparkan bahwa mendiamkan kekerasan seksual atau KDRT sama seperti tindakan impunitas dan membiarkan munculnya calon pelaku lain. Sedangkan, mencegah terjadinya kekerasan seksual atau KDRT adalah perbuatan nahi mungkar dan fardhu kifayah.

Dalam sejarah Islam, hukum kekerasan seksual terbaik pada zaman Nabi Muhammad. Di mana kesaksian korban didengar dan dianggap valid, tidak menyalahkan korban, serta korban tidak pernah dihukum. Bagaimana dengan pelaku? Tentu saja pelaku mendapatkan hukuman (rajam, jilid,
diasingkan, qishah) dan pelaku tidak mendapatkan impunitas.

Baca Juga: Ini Alasan Mengapa RUU P-KS Harus Segera Disahkan

Untuk mengatasi kasus kekerasan sosial diperlukan edukasi terhadap masyarakat dan perlu adanya payung hukum yang tegas. Saat ini payung hukum yang sedang diupayakan untuk melawan kasus kekerasan seksual, yaitu RUU Penghapusan Kekerasan Seksual. Sayangnya sampai detik ini belum ada titik terang kapan RUU tersebut disahkan. Oleh karena itu, untuk mendorong pengesahan RUU ini diperlukan dukungan banyak pihak. Sembari menunggu RUU ini disahkan, ada beberapa hal yang dapat dilakukan untuk membantu para penyintas, yaitu:

  1. Dengarkan cerita korban tanpa menghakimi
  2. Tidak menyudutkan bahkan mengucilkan korban
  3. Tidak menyebarluaskan identitas korban dan keluarganya
  4. Bantu korban mendapatkan hak-haknya melalui lembaga korban kekerasan seksual

Terakhir, bantu tanda tangani petisi untuk segera mengesahkan RUU Penghapusan Kekerasan Seksual di laman https://www.tbsfightforsisterhood.co.id/.

Annisa P Putri

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *