lifestyle

Termasuk Dalam Generasi Sandwich? Bangga Atau Justru Terbebani?

Hi gengs! Welcome back. Semoga semua dalam keadaan sehat ya, Amiin. Anyway gengs, kalian tuh sudah familiar belum sih dengan istilah “sandwich generation atau generasi sandwich”? Honestly, aku baru tahu istilah ini tuh belum lama dan ternyata aku termasuk ke dalamnya. Jadi, istilah ini mengacu kepada seseorang yang memiliki usia produktif dan sudah berkeluarga untuk menanggung generasi sebelumnya (orang tua yang sudah tidak berpenghasilan) dan generasi selanjutnya (anak-anak).

Bicara tentang Sandwich Generation, sebenarnya istilah ini tak hanya dikenalkan oleh dunia Barat tapi juga berasal dari budaya Timur. Hal ini dianggap lumrah dan sering kali dikaitkan dengan maksud “berbakti”. Lalu, bagaimana sudut pandang yang menjalani sebagai seorang Sandwich Generation?

Nah, beberapa waktu lalu aku sempat joined webinar yang membahas Sandwich Generation bareng @kejarmimpikeluarga.id dan @thebabyologist. Dalam webinar kali ini menghadirkan Rahne Putri (Proud Sandwich Generation) dan Aliyah Natasya (Financial & Investment Planner) sebagai narasumber. Kira-kira materi apa yang disampaikan dan aku dapatkan? Here we go!

“Sandwich Generation is About Feeling”

Dalam webinar ini, Mbak Rahne bercerita bagaimana ia dulu “terbebani” sebagai Sandwich Generation. Ia mengatakan bahwa menjalani hal tersebut memang gak mudah. Mbak Rahne pun bercerita bahwa ia baru merasakan terhimpit dan berat ketika ia memiliki anak. Ia juga sempat menyalahkan orang tua yang menyebabkan hubungan keduanya menjadi renggang. Sampai akhirnya, Mbak Rahne berdamai dengan keadaan dan menerima. Ia juga menata kembali realita dan menurunkan ambisi agar tidak terbebani dengan kondisi ini. Kalau ditanya berapa lama Mbak Rahne akhirnya bisa “menata” kembali? Ia memaparkan kurang lebih sekitar 7 tahun.

Sandwich Generation is about feeling – Ini pendapat dari Mbak Aliyah dan aku setuju dengan pendapat beliau, Dari kacamataku sebagai perempuan, seorang ibu, dan seorang anak kadang kala aku merasa ingin dan harus membahagiakan mereka. Tapi, suka ga paham akan kapasitas diri sendiri dan jatuhnya malah “maksa”. Hal ini yang harus dibenahi agar bisa bahagia menjalani seorang generasi sandwich.

Selain “berdamai”, Mbak Aliyah juga menyampaikan bagaimana cara menata keuangan, supaya para Sandwich Generation ini tidak merasa terbebani. Hal utama yang perlu dilakukan adalah TRACKING. Kita harus tahu dulu nih seperti apa kondisi dan track record finansial kita. Sehingga kita bisa tahu apa yang akan kita lakukan ke depannya. Selain itu, hal ini juga dilakukan supaya kita bisa menata ulang keuangan kita. Idealnya setiap orang wajib menekan pengeluaran (termasuk cicilan) sebesar 70% penghasilan, sisanya? Silahkan gunakan untuk dana darurat, asuransi, dan investasi.

Bagaimana jika kalian punya hutang atau harus harus menanggung hutang orang tua? Menurut Mbak Aliyah, masalah finansial itu tidak bisa dikerjakan bersamaan. Maka buat skala prioritas! Selesaikan hutang satu persatu terlebih dahulu. Jika kalian seorang freelancer atau seseorang yang memiliki finansial tidak tetap, kalian perlu melakukan tracking finansial per minggu. Berat memang tapi tujuannya adalah agar bisa beradaptasi dengan penghasilan yang tidak bisa dipredict.

Mbak Aliyah dan Mbak Rahne sepakat bahwa transparasi keuangan antara kita dan partner (suami) itu diperlukan. Begitu pun dalam mengambil keputusan. However, komunikasi itu adalah kunci dasar. Anyway, menata keuangan ini berlaku untuk semua orang ya, apalagi kita sebagai perempuan. Kita harus tetap bisa “berdiri” jika hal buruk terjadi.

Tips Bangga Menjadi Sandwich Generation

Dari webinar ini, aku mendapatkan 4 poin agar bisa bangga menjadi Sandwich Generation dan bisa jadi memutus rantai ini ke depannya. Memutus di sini dalam artian, sudah cukup sampai di aku aja jangan ke anak-anakku. Kalaupun suatu hari nanti mereka ingin berbakti dengan berbagi finansial, itu lain cerita. Well, 4 poin tersebut adalah:

  1. Changing Your Mindset. Ubah pola pikir bahwa Sandwich Generation ini bukanlah beban. Berdamai dengan diri sendiri, tata ulang, dan bangun kembali dengan perasaan bahagia. Niatkan membantu orang tua sebagai tabungan di akhirat. Niatkan juga memberi yang terbaik untuk anak-anak kita sebagai bekal mereka tanpa terbesit untuk meminta kembali.
  2. Communication. Dalam hal apapun komunikasi selalu menjadi kunci. Komunikasikan what you/partner/child/parents/ want and need, serta kondisi kalian supaya tidak ada miss comunication. Komunikasi yang buruk akan membuat hubungan antar keluarga menjadi semakin buruk.
  3. Investasi. Ada berbagai tujuan kenapa investasi itu perlu, salah satunya untuk memenuhi kebutuhan di masa depan. Aku dan suami masing-masing melakukan investasi Reksadana. Karena menurutku diantara bentuk investasi yang ada, Reksadana yang memiliki low risk. Tapi, JANGAN melakukan investasi kalau kalian belum punya DANA DARURAT dan ASURANSI. Jadi, urutannya DANA DARURAT – ASURANSI – INVESTASI. Jangan ketuker, jangan jadi Investasi buat dana darurat karena jadinya akan “gali tutup lubang”.
  4. Add Income. Cari penghasilan tambahan di luar penghasilan utama. Tips ini bisa jadi solusi jika penghasilan utama tidak bisa menutupi biaya hidup keluarga inti dan orang-orang yang ditanggung. Jika penghasilan utama dirasa cukup,atur dan gunakan sebaik mungkin.

Ingat! Kita bisa tetap “berbakti” tanpa harus merasa terbebani. Jika happy menjalaninya, kita bisa membahagiakan orang tua, pasangan, dan anak tak hanya di dunia, lho! Jadi, ada di posisi mana kalian, proud or pressure?

See you!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *